Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Ajaklah anak-anak pulang ke Desa

Kebun di hutan dan Laut(Mangael,bapukat dan gelombang laut) ialah penyuplai energi bagi kuatnya tekad, mimpi & harapan  generasi pesisir seperti kami. 

Setiap kali melihat orang tua dan saudara sakit karena kerja kerasnya hanya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan adik-adik mereka. Setiap itupula tekad dan mimpi kami terpahad kuat di jiwa, setiap ada masalah setiap itupula tekad dan mimpi kami semakin kuat dan begitu seterusnya semakin kuat.

Sebabnya anak-anak digital harus pula diajak kembali ke asalnya, biarkan mereka bebas merasakan desirnya alam, ceriah bersama generasinya, bermain air laut, sungai dan kebun di hutan, pun al hasil Si Raafat jagoanku semakin hitam sangat hitam๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Biarkan mereka ciptakan ceritanya sendiri. InsyaAllah dengan itu, menjadi dasar bagi kuatnya cinta dan tumbuhnya cita untuk negerinya.

RAF,Pasir putih mangoli. 25/12/2020.

Negeri ini terlampau indah untuk dijamah


Pengen aku tulis catatan foto ini tapi inspirasinya kamu. Ya kamu syantik yang hatiku tertaut, di tanah leluhur inilah kita dipilihkan menyatu, bukan yang kita inginkan. Toh sebelumnya bukan siapa-siapa, tak saling kenal lalu oleh Allah menautkan cinta, cita dan mimpi-mimpi mengarungi amanah terpanjang yang penuh dinamika.

Syantik ku, semilir angin di fiber ini semakin mendekap hangat jiwaku ingin meluk negeri ini. Sebagaiman kita yang sebelumnya tak saling kenal. Orang-orang yang tak saling kenal mulai berdatangan di negeri ini. Pemukiman semakin panjang dan mendekati hutan. Saya dengar pula masyarakatnya suda mulai suka menjual tanah dan kebun-kebunnya. 

Syantikku, menerima perbedaan itu pertanda kemajuan. Tapi dalam tahapan tertentu ada harga yang harus di bayar. Yaitu hilangnya cinta dan martabat diri masyarakat. Solidaritas, ikatan kekerabatan, kekeluargaan, nilai-nilai kearifan lokal, perlahan hilang sebab relasi yang mengalasinya bukan sikap, karakter, tua, muda, anak, orang tua apalagi hanya sekedar marga. Sebab sungguh yang mengalasinya adalah uang, pekerjaan, kesempatan dan peluang.

Syantik ku, sebagaimana kita. Kedatangan "mereka" bukan yang di tentukan Tuhan, tapi yang diinginkan. Bahkan melebihi keinginan adalah "kerakusan". Di sana "libidio" kuasa dan pengusaha tumbuh subur, yang satu ingin menguatkan basis material dengan mengksplorasi alam dan menciptakan ketergantungan manusianya. Dan yang satu ingin tenang di singgasananya kuasa.

Syantikku, negeri ini terlampau indah untuk di jamah oleh mereka yang slalu merasa lapar dan haus akan harta dan kuasa. Negeri inipun kaya akan kearifan dan pesan-pesan leluhurnya. Jika kelak anak-anak kita berteriak tentang pembebasan, tentang kembalinya harga diri dan cinta negeri ini. Aku rela sekalipun darah mereka tertumpah✊✊✍✍

#Mangoli Tengah#Kep.Sula#.

UPAI, disuatu hari

Pagi ini(12/4/2016) Kakak ku tercinta Saiful, mengajak ke Upai (Nama kebun), tetapi bagi saya, ia bukan saja nama bagi sebuah kebun tetapi nama bagi semua harapan dan masa depan keluarga tertumpah. ia bahkan adalah nama bagi sebuah cinta dan kenangan indah. 

Alhamdulillah bahagianya setelah sekian lama tahun 2001. kini di ajak Kakak tercinta, Kakak yang dengan setia semenjak kecil menghabiskan waktu mengarungi samudra saketa dan hutan belantara upai, kaka yang dengan kerja kerasnyapula bersama Abba. Kami bisa mengenyam pendidikan.

Dalam mengarungi samudera yang tenang pagi ini, Kenangan demi kenangan sepanjang masa kecilku semua terekam jelas dalam ingatan, berputar bagai putaran VCD yang sedang menayangkan sebuah kisah di layar monitor.

 Pandanganku terpaku pada tenangnya laut dan hamparan gunung nan indah mempesona dengan binar Sang surya yang teduh. Aku tersenyum mengingat kekonyolanku bersama kakak disuatu malam saat menjaring ikan, justru ikannya membawa jaring kami, menegangkan sangat menegangkan bukan karena suda semakin larut malam dan terdengar suara khas fotifoti. 

Entahlah apa artinya, itulah sebutan kakak atas suara yang kadang nyaring, pelan, menghilang, nyaring, pelan dan menghilang. Tapi yang paling kami takutkan dan menegangkan adalah bayangan kami atas reaksi Abba saat mengetahui Jaring harapan keluarga itu hilang.

Entah Bagaimana Mereka Merampas Batinku

Entahlah, semalam & pagi ini, selepas subuh. Dua sosok muda merampas batinku,merampas air dipelaph mataku, yg satu,sosok muda istiqamah. Akhi Fajar sahabatku yg pergi selamanya memenuhi panggilan Allah.

Dan Satulagi sosok muda pada semangatNYA,harapan,optimisme,keteguhan prinsip. Terakhir bertatap muka kami berbincang saat Darul Arqam paripurna & pelatihan instruktur Nasional Muhammadiyah (2015,Yogyakarta). Rasanya teriris saat membaca hujatan mereka yg tak mengenalNYA secara dekat.

UPAI; Disuatu Hari

Pagi ini, KakakQoe. Saiful, mengajakQoe ke Upai. Kakak yang dengan setia semenjak kecil menghabiskan waktu mengarungi samudra saketa dan hutan belantara upai, kaka yang dengan kerja kerasnyapula bersama Abba. Kami bisa mengenyam pendidikan.

Menanti Sang Komprador Yang Tak Kunjung Pasti

Sunyi-terik perlahan ke per
aduan. sinaran lampu kapalpun turut menghiasi sudut2 kapal yg tampak mulai gelap & ah..Qoe masi disini. ya..Menanti kepastian yg tak kunjung pasti. Masi ada kamar kosong? tunggu sebentar ya? jawab Bos Komprador. begitulh mereka menyebutnya. Iya pa jawabku.

Melebihi Indahnya Mozaik Selekta Malang

Sekembali ke rumah ternyata Qoe dapati MalaikatQoe Tercinta Si Rafat suaranya parau, panasnya melengking. Tiba-tiba ingatan qoe pada sang komprador hilang..hilang ditelan bumi bahkan teori dan kosakata inggris yg sempat Qoe baca dan hafal di Hp Qoe turut menghilang entah kemana. Qoe bergegas membantu semampuQoe. Setelah mengelap wajah dan rambutnya yang kian panjang tapi tampak elegan dan ganteng. ya sangat ganteng menurut Qoe dan uminya [Ya iyalah orang tua mana yang tak memuji anaknya sendiri..hehe]

MALAIKATQOE KEMBALI CERIA; SAKETA QOE DATANG

Ceria..sangat ceria. Malaikat kecilQoe tampk aktif kembali. Qoe mantap mengarungi samudra Halmahera malam ini.Pun AdikQoe yg biasanya mengantr sudah datang dg sedikit rasa bersalh tampak dari sorot matanya atas penantian Qoe padanya kemarin. CintaQoe Nurkhasnasyah pelan berbisik menawarkn penuh harap agar menggoncengQoe menuju pelabuhn Bastiong. 
kami melihat Rafat yg sedang bermain dg Spupunya masih ceria-Aktif seolah berharp Umminya mengantr Ayahnya. Kamipun berpacu fitu-Bastiong yg rintik penuh Roman. Tawa canda & Doa Mengalir manis mengiring perjlnan manis ini.

SELEPAS CAHAYA NEGERI PALA CENGKEH MENGHILANG

Pun sendiri. Mengarungi samudra negri para raja ini tak akan membuatmu penat-bosan dengan segala sisi romantika yang disuguhinya kau akan terbang tinggi mengolah asa-rasa menjulang, memanjat gapai cita dan cintamu. Itulah yang Qoe rasakan kini.
Selepas cahaya negri pala cengkeh Ternate Tidore menghilang. Semua sisi luar kapal gelap. Yang tersisa hanyalah cahaya kapal yg dengan manja memanjakn ikan yang dengan riang bahagia berpacu bersama cahaya kapal.