Negara, bagai rajutan benang halus yang menjerat kesadaran, tak sekadar mencengkeram dengan cakar kekuasaan yang kasar, tetapi juga merayap perlahan melalui bisikan-bisikan ideologi yang merasuk ke dalam jiwa warganya. Louis Althusser, dengan teorinya tentang Aparatus Ideologi Negara (ISA) dan Aparatus Represif Negara (RSA), membuka mata kita bahwa dominasi tak melulu hadir dalam rupa pentungan dan borgol, tetapi juga melalui pendidikan, agama, dan media yang menyusup ke dalam benak, mengajarkan kepatuhan dalam diam. Indonesia, dengan segala liku sejarah dan politiknya, menjadi lanskap nyata tempat teori ini berakar dan berbuah.
Pendidikan: Sebuah Kelas yang Mengajarkan Kepatuhan
Di ruang-ruang kelas yang tenang, di balik lembar-lembar buku pelajaran, negara menyusup dengan narasi yang membentuk cara berpikir generasi muda. Sejak era Megawati hingga Jokowi, pendidikan Sosiologi tak sekadar menjadi ruang ilmu, tetapi juga medium pengukuhan ideologi. Buku-buku ajar yang mereka baca tak mengajarkan mereka untuk melihat ketimpangan sebagai penyakit sistemik, tetapi sekadar sebagai kegagalan individu yang harus diperbaiki dengan kerja keras dan kepatuhan (Khanifah & Mudzakkir, 2024). Dalam diam, kurikulum ini menjadi benih yang menumbuhkan generasi yang menerima ketidakadilan sebagai takdir, bukan sebagai arena perlawanan.
Sastra dan Media: Wajah Berlapis dari Ideologi
Kata-kata yang tertulis dalam sastra pun tak selalu netral. Dalam cerpen-cerpen Putu Wijaya, misalnya, tokoh-tokohnya kerap menjadi cerminan bagaimana ideologi negara menginterpelasi individu. Mereka adalah manusia yang dikondisikan untuk melihat dunia dalam lensa kepentingan penguasa, tanpa sadar bahwa kesadaran mereka telah dipahat oleh kekuatan yang tak kasat mata (Graceiya et al., 2021).
Di dunia digital yang kini menjadi arena baru pertarungan wacana, media pun memainkan peran ganda. Di satu sisi, ia adalah alat negara untuk melanggengkan kuasanya, tetapi di sisi lain, ia juga menjadi medan di mana suara-suara perlawanan mencoba menembus dinding hegemoni. Kritik Nasrudin Joha terhadap kapitalisme dan pemerintahan, yang dipublikasikan melalui media alternatif, adalah bukti bahwa dalam celah sekecil apa pun, selalu ada ruang untuk kesadaran kolektif tumbuh dan menantang narasi dominan (Dianto et al., 2021).
Resistensi: Sastra sebagai Pilar Perlawanan
Namun, tak semua pena tunduk pada kuasa negara. Dalam Laut Bercerita karya Leila Chudori, kata-kata menjadi senjata melawan represi. Novel ini bukan sekadar kisah aktivis yang direnggut oleh kekuasaan, tetapi juga catatan panjang bagaimana negara menggunakan kekerasan dan propaganda untuk menghapus sejarah yang tak sejalan dengan kepentingannya (Sahertian et al., 2024). Dalam cerita yang mengalir seperti ombak, Leila menghidupkan kembali suara-suara yang telah dibungkam, menjadikan sastra sebagai medan perlawanan yang tak dapat direpresi begitu saja.
Negara, Kuasa, dan Celah Perlawanan
Seperti jaring laba-laba, negara menenun hegemoninya dengan benang-benang yang tampak samar, tetapi kuat mencengkeram. Melalui pendidikan, media, dan sastra, ia membentuk kesadaran, membingkai realitas, dan menanamkan narasi yang membuat individu menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Namun, dalam setiap dominasi, selalu ada celah untuk perlawanan. Seperti Laut Bercerita, seperti kritik dalam media alternatif, seperti kesadaran yang tumbuh diam-diam dalam benak generasi muda—perlawanan akan selalu menemukan jalannya, meski dalam bentuk yang paling sunyi sekalipun.
***
Rahmat Abd Fatah [Pengajar Sosiologi FISIP Univ.Muhammadiyah Maluku Utara].
Reference
Dianto, I., Bakti, A. F., & Rosyidin, I. (2021). Ideological and media discourse study of Nasrudin Joha's political article. Islamic Communication Journal, 6(2), 147–164. https://doi.org/10.21580/icj.2021.6.2.8140
Graceiya, A., Taum, Y. Y., & Adji, S. E. P. (2021). Ideologi dan aparatus negara dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya: Perspektif Louis Althusser. Sintesis, 15(2), 109–121. https://doi.org/10.24071/sin.v15i2.3119
Khanifah, A., & Mudzakkir, M. (2024). Hidden curriculum buku pelajaran Sosiologi: Transfer ideologi antar generasi. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(6), 134–148. https://doi.org/10.31004/obsesi.v8i6.6654
Sahertian, M. K. B., Nurulhady, E. F., Suryadi, M., & Laluna, F. R. (2024). Sebuah pemikiran perlawanan Chudori terhadap cengkeraman kekuasaan dalam Laut Bercerita. DIGLOSIA: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7(2), 65–80. https://doi.org/10.30872/diglosia.v7i2.969